Senin, 10 Juni 2013

Tips & Tricks



The Extra Mile to Make Studying Fun!
Student Globe, Sunday, September 30, 2012

We all seem to have thousands of items to memorize, ranging from numbers, to important facts, to famous figures. How can you possibly stick every detail into your head? Well that’s a whole different story to be told! Highlighting important selection in your textbooks, or creating cue cards, are ordinary study methods common among most students. Why not go that extra mile and take learning matters into your own hands?
One of the most ‘creative’ men in the advertising business, Leo Burnett, has observed “Curiosity about life in all of its aspects, I think, is still the secret of great creative people”. So be curious! Explore every creative way to be on top of your game, and seize those glowing grades.
Before you set up any strategy, first things first: recognize your learning style. Is it visual, audio or kinaesthetic? Once this is determined, go back to your mapping and try a few of these nifty tips and tricks.

Create Your Own Private Study Corner
Buy special couch or exquisite desk thet you’ve been dying to own-then decorate it with your own creation. Find a place to display your family photos to boost self-motivation. Once you are bitten by the lazy bug or you’re about to doze off, look at the photos and think of how proud those relatives of yours would be if you came home with dazzling report cards. Add some cheerful colors, repaint the wall or enliven it with special wallpaper. Fill up your space with your favorite stuffed animals or action figures.

Play with the Letters of the Alphabet
Ever have to memorize the solar system? Names of heroes? Capitals or provinces or countries? No big deal. You can create a mnemonic device - a memorable sentence consisting all of their initial letters. Take the first one or two letters of the word, then form them into an abbreviation or long sentence – one that’s easy to remember. For instance, if you have to memorize, Mercury, Venus, Earth, Mars, Jupiter, Saturn, Uranus, Neptune and Pluto, you can fix them in your mind with ‘Mariah Versus Emma Makes Justin Sad Unless N’Sync Performs’. There you go! It’s the whole solar system! And it’s legal too: you’re not cheating.

Create a Collage
If you are to memorize country names, capital cities or famous figures, this is a fun way to do it. Get a special board, then glue the images on it, plus their names – or make your own illustration. You could also get a huge map of the world, and then add its name, along with colorful pointers.

Play with Words
Learning history can be tricky, and can even make your head seem like it’s going to explode (sometimes). All those names or chronology of kingdoms and empires, details of their rise and fall – it can be a lot to take. If you happen to love writting, exchange the characters in your story with historical names. This is a guarantee you won’t let it slip out of your mind. You can also use the kingdom’s name or its historical setting as a background for your story.

Sing it All Away
Exchange the lyrics of your favorite song with the subject you want to learn. You can sing it in the shower, you can sing it on your way to school or even wow the judges during a pop star audition.

Story-Telling
Chatting about the latest trend or Hollywood gossip is super – duper fun. But in times of the desperate need to study, you can exchange the topic for your school subjects. Wouldn’t it be fun to hear your friends telling you about the World War II or the Civil War? And! You would still have an excuse to hang out with your friends, even days before ‘D-day’.
Above all, you must keep yourself motivated at all times. Every time you’re about to give up, take a minute and remember what got you started in the first place. Remember, Barack Obama didn’t become American President overnight. It takes a lot of learning, tries, falls, ups and sometimes downs.

Rabu, 05 Juni 2013

info



Merokok dan Duduk Terlalu Lama Sama-sama Berbahaya

Seperti kita tahu kalau merokok dapat menjadi salah satu penyebab orang meninggal. Tapi tahukah kamu kalau dudk dengan waktu yang terlalu lama juga bisa menyebabkan seseorang terkena penyakit kanker.
Dr James Levine, seorang dokter Mayo Clinic di Rochester menyebutkan bahwa sitting disease atau penyakit yang ditimbulkan akibat duduk terlalu lama sama seperti penyakit yang ditimbulkan akibat efek samping dari merokok.
Menurut Dr Levine, dalam sebuah penelitian, orang dewasa ya g menghabiskan lebih dari empat jam sehari duduk di depan televisi memiliki 80 persen peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung, dibandingkan dengan orang dewasa yang menghabiskan kurang dari dua jam duduk di depan televisi.
“Risiko ini terlepas dari faktor risiko lain seperti merokok dan diet yang tak sehat,” lanjut Dr Lavine.
Dalam studi lain, duduk terlalu lama juga terkait dengan risiko kanker. Total kanker yang terkait dengan terlalu lama duduk sebanyak 173.000 kasus kanker terdiri dari 49.000 kasus kanker payudara, 43.000 kasus kanker usus, 37.200 kasus kanker paru-paru, 30.600 kasus kanker prostat, 12.000 kasus kanker endometrium, dan 1.800 kasus kanker ovarium.
“Solusinya bukan menambah waktu nge-gym, yang tampaknya tidak mengimbangi risiko tersebut. Tapi sebaliknya, solusinya adalah kurangi waktu duduk dan bergeraklah lebih banyak,” tegas Dr Levine.
Cukup dengan berdiri, kamu akan membakar tiga kali lebih banyak kalori ketimbang hanya duduk. Kontraksi otot termasuk yang diperlukan untuk berdiri tampaknya juga memicu proses penting yang berkaitan dengan pemecahan lemak dan gula.
“Ketika kamu duduk, kontraksi otot berhenti dan ini adalah proses perlambatan,” lanjut Dr Levine.

Selasa, 04 Juni 2013

info



4 Kebiasaan Ampuh Tangkal Penyakit Jantung

Para ahli menyebutkan ada empat kebiasaan sehat yang dapat menjaga kita terbebas dari penyakit jantung. Mereka menemukan kebiasaan-kebiasaan itu dapat mengurangi risiko penyakit jantung hingga 80 persen selama periode delapan tahun.
Kebiasaan-kebiasaan itu adalah olahraga teratur, memiliki pola makan ala Mediterranean, menjaga berat badan normal, dan yang paling penting adalah tidak merokok.
Sebuah studi besar yang dilakukan di Johns Hopkins University juga menemukan hubungan signifikan antara faktor gaya hidup dan kesehatan jantung selama periode waktu yang relatif pendek.
Ketua studi Haitham Ahmed, dari Ciccarone Center untuk Prevention of Heart Disease di Johns Hopkins mengatakan, ini adalah studi pertama yang menemukan hubungan protektif antara gaya hidup rendah risiko dan tanda-tanda awal dari penyakit pembuluh darah, penyakit jantung koroner (PJK), dan kematian dalam satu periode waktu.
Studi yang dipublikasi dalam American Journal of Epidemiology ini mengevaluasi data lebih dari 6.200 pria dan wanita yang berusia 44 hingga 84 tahun. Para peserta memiliki latar belakang mulai dari kulit putih, Afrika-Amerika, Hispanik, dan China.
Mereka diikuti rata-rata 7,6 tahun. Mereka yang melakukan gaya hidup sehat memiliki tingkat kematian 80 persen lebih rendah selama periode waktu tersebut dibandingkan dengan mereka yang tidak menjalani gaya hidup sehat. Bahkan studi ini melibatkan enam pusat pemeriksaan kesehatan untuk memberikan diagnosa yang akurat dari penyakit kardiovaskular.
Selama studi berlangsung, para peneliti juga mencatat jika ada peserta yang mengalami serangan jantung, nyeri dada, angioplasti, atau meninggal karena PJK dan penyebab lain. Selain itu, mereka memberikan penilaian dari 1 (paling tidak sehat) hingga 4 (paling sehat) berdasarkan gaya hidup sehat yang para peserta jalani.
Hasilnya ada dua persen atau 129 peserta yang memiliki nilai 4, yang berarti mereka memiliki risiko 80 persen lebih rendah selama periode waktu tersebut.
Pakar kesehatan jantung dan profesor di Johns Hopkins University School of Medicine sekaligus penulis senior dari studi Roger Blumenthal mengatakan, dari semua faktor gaya hidup sehat tersebut, tidak merokok adalah faktor yang paling memiliki peran besar dalam mengurangi risiko PJK dan kematian.
"Faktanya, para perokok yang menjalani dua atau lebih kebiasaan sehat masih memiliki angka kelangsungan hidup yang lebih rendah setelah 7,6 tahun daripada non-perokok yang jarang beraktivitas dan obesitas," tutur Blumenthal.
Para peneliti menekankan, kebiasaan sehat bukan hanya memberikan manfaat untuk mengurangi risiko penyakit jantung, tetapi juga kematian yang diakibatkan hal lain.

Sumber:


info



Menyedihkan, Remaja Merokok
Kompas, Jumat, 8 Mei 2013

Remaja merokok semakin menjadi pemandangan biasa di sekitar kita. Nyaris tak ada tempat yang mampu membatasi pelajar melakukan aktivitas merugikan kesehatan itu. Bahkan, di sekitar sekolah kini banyak yang tak sepenuhnya bebas rokok. Banyak pelajar kini tidak perlu sembunyi-sembunyi merokok di belakang sekolah.
Semakin banyak dan mudahnya menjumpai pelajar usia 14 tahun sampai 18 tahun merokok menandakan bahwa jumlah perokok usia muda makin meningkat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, di seluruh Indonesia, pelajar dan remaja usia 15-19 tahun yang merokok setiap hari sebanyak 28,2 persen. Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, angka pelajar yang merokok setiap hari mencapai 44,6 persen.
Menyedihkan melihat kenyataan anak muda tak peduli dengan kesehatan sendiri. Padahal, sebagian besar dari pelajar perokok tahu bahaya besar yang mengancam para perokok.
Keadaan itu sesuai dengan hasil survei mengenai perilaku merokok di kalangan pelajar yang diadakan Modernisator-sebuah gerakan generasi muda Indonesia yang prihatin terhadap energi negatif di Indonesia-dengan Fakultas Ekonomi Universitas trisakti, Jakarta, dan Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga, Surabaya.
Dua survei terhadap pelajar tingkat SMP dan SMA di Jakarta dan Surabaya pada Oktober-November 2012 itu memberi hasil hampir sama.
Dari jumlah perokok pemula, misalnya, di Surabaya, 12,98 persen dari 1.009 responden cowok dan cewek merokook setiap hari. Sebanyak 71 persen responden perokok mulai merokok kurang dari setahun. Jumlah responden yang merokok memang tak banyak, tetapi mereka merokok 1-6 batang rokok per hari.

Beli eceran
Heran ya, dari mana saja mereka mendapat rokok itu? Ternyata, 87 persen anak Surabaya yang merokok itu menggunakan sebagian uang jajan mereka untuk merokok. Uang jajan mereka rata-rata Rp. 10.000 per hari, tetapi ada juga yang mencapai Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000 per hari.
Hal sama dilakukan responden pelajar perokok di Jkarta. Sebanyak 35,8 persen menggunakan uang saku mereka untuk membeli rokok yang biasanya dibeli secara eceran. Mereka membeli rokok secara eceran yang harga per batangnya Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000 (tergantung merek).
Ini dibenarkan oleh Rahul, pelajar kelas XI SMA di Jakarta, yang beru merokok setahun terakhir. Ia menggunakan uang sakunya untuk membeli rokok. Ia langsung membeli satu pak karena jenis rokok yang ia konsumsi tak dijual eceran. Namun, teman satu kelasnya yang juga perokok biasa membeli rokok secara eceran di warung dekat sekolahnya. “Di dekat sekolah banyak penjual rokok ketengan (eceran) kok. Kalo lagi enggak punya duit, ya beli saja sebatang,” kata Rahul.
Faktor kemudahan mendapatkan rokok, terutama dari pedagang yang ada di sekitar sekolah dan gencarnya iklan rokok, menjadi pendukung dari terus naiknya jumlah perokok muda.

Belum siap
Menariknya, dari kedua survei, responden pelajar perokok sama-sama tahu, merokok itu berbahaya karena memunculkan aneka penyakit, mulai dari yang paling ringan, yakni membuat mulut berbau dan memunculkan noda pada gigi, sampai risiko paling fatal berupa penurunan mental dan fisik anak yang dilahirkan (bagi perempuan perokok), penyakit jantung, dan kanker paru.
Berdasarkan survei tersebut, 90 persen responden di Surabaya memiliki pengetahuan cukup bagus tentang pengaruh rokok terhadap kesehatan. Mereka mampu menjawab pertanyaan tentang dampak buruk merokok dan gangguan kesehatan akibat merokok secara benar.
Kondisi di Jakarta pun sama. Responden tahu persis bahwa perokok pasif memiliki risiko gangguan kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan perokok aktif dan pada sebatang rokok terkandung lebih dari 4.000 zat kimia yang berbahaya bagi tubuh.
“Iya, saya tahu merokok bisa membuat impotensi dan kanker. Saya sebagai perokok bisa berhenti total sampai pada titik enggak mau merokok.” Ujar Rahul.
Sementara Dimas, di Jakarta Pusat, mengaku, ia kadang-kadang sering merenung memikirkan ancaman berbagai penyakit yang bisa menyerang dia sebagai seorang perokok. “Kalau ingat risikonya, kadang terpikir mending berhenti merokok,” katanya. Masalahnya, sama dengan Rahul, ia sudah pada taraf kecanduan rokok. Setiap kali sedang stres atau malah ketika berkumpul dengan teman sesama perokok niat merokoknya muncul lagi.
Ketika ditanya apakah sudah siap terkena penyakit akibat merokok, mereka sama-sama menggelengkan kepala,. “Wah, saya belum siap,” kata Rahul.
Nah, kawan-kawan, sepintas merokok itu kelihatan nikmat dan terkesan jantan, gaul, tetapi siapkah kalian mendapatkan risiko terkena berbagai penyakit karena rokok? Bila kamu tidak siap sakit, apa pun alasanmu untuk merokok lebih baik stop kebiasaan merokok. Bila tidak, saat kamu sakit, yang nemanya macho, trendy, dan pelepas stres itu tak ada lagi. Yang kamu terima hanya kesakitan yang menimbulkan penderitaan panjang.


REMAJA MEROKOK
KETERANGAN
SURABAYA
Oktober-November 2012
JAKARTA
Oktober-Desember 2012
Pengaruh teman/
lingkungan yang
merokok
95%
75%
Merokok karena
pengaruh keluarga
63%
75,5%
(ayah perokok)
Memilih rokok filter
84%
81%
Banyaknya merokok
per hari
82%
(1-6 batang)
47,5%
(kurang dari 4 batang)
22,7%
(4-8 batang)
Membeli rokok
dari warung
76%
85,7%

Keterangan:
Surabaya: N=1.009 siswa SMP dan SMA; 56% perempuan dan 44% laki-laki
Jakarta:     N=1.435 siswa SMP dan SMA; 42% perempuan dan 58% laki-laki

(Survei Modernisator dengan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, dan Laboratoriun Pengembangan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga, Surabaya)